Analisis saham yang benar tetap bisa membuat rekening habis kalau ukuran posisinya salah. Sebaliknya, analisis yang hanya separuh benar bisa bertahan bertahun-tahun bila kerugiannya selalu kecil. Saya lebih suka membahas bagian yang membosankan ini daripada indikator, karena di sinilah sebagian besar kerugian ritel terjadi.

Mulai dari satu angka: berapa rupiah yang rela hilang per transaksi

Aturan yang paling sering dipakai: risiko per transaksi sekitar 1% dari modal. Angkanya bukan hukum alam, 0,5% atau 2% juga dipakai orang. Intinya, tentukan sebelum membeli, bukan sesudah harga turun.

Contoh hipotetis. Modal Rp100 juta. Risiko 1% = Rp1 juta. Anda berencana membeli saham di Rp1.000 dengan batas rugi di Rp920 (turun 8%, di bawah support yang Anda tentukan). Rugi per lembar = Rp80. Jumlah lembar maksimum = 1.000.000 / 80 = 12.500 lembar = 125 lot. Nilai posisinya Rp12,5 juta, atau 12,5% modal. Jadi ukuran posisi ditentukan oleh jarak ke batas rugi, bukan oleh seberapa yakin Anda.

Kalau batas ruginya lebih jauh, misalnya Rp850 (rugi Rp150 per lembar), maka lembarnya 1.000.000 / 150 = 6.666, dibulatkan ke bawah 66 lot. Batas yang lebih longgar berarti posisi yang lebih kecil. Banyak pemula membalik logikanya: mereka beli jumlah yang sama lalu melonggarkan batas rugi supaya tidak "kena".

Biaya tidak bisa diabaikan di perhitungan

Di IDX, fee beli sekitar 0,15% dan jual sekitar 0,25% (termasuk pajak final), bervariasi menurut sekuritas. Rata-rata bolak-balik sekitar 0,4%. Pada posisi Rp12,5 juta, itu Rp50 ribu. Kalau Anda berharap untung Rp250 ribu, biayanya sudah 20% dari target. Dan ketika batas rugi terkena, kerugian sebenarnya Rp1 juta ditambah biaya, sekitar Rp1,05 juta, belum termasuk slippage. Kalau saham tipis, slippage bisa jauh lebih besar dari fee.

Cut loss: bentuk yang bisa Anda patuhi

Orang gagal cut loss bukan karena tidak tahu aturannya, tapi karena aturannya tidak spesifik. "Cut kalau jelek" bukan aturan. Tiga bentuk yang spesifik:

  • Batas harga di bawah level teknikal. Misalnya di bawah dasar terakhir atau di bawah MA50, ditambah ruang beberapa tick supaya tidak tersapu noise.
  • Batas persentase. Mudah, tapi tidak peduli struktur harga. Kerugian 8% pada saham yang rata-rata bergerak 1% per hari berbeda dari 8% pada saham yang bergerak 5% per hari.
  • Batas berbasis volatilitas. Misalnya 2 kali ATR (rata-rata rentang harian). Jika ATR saham Rp40 pada harga Rp1.000 (4%), batasnya sekitar Rp80 di bawah masuk. Lebih adaptif, tapi butuh data ATR.

Pilih satu, tulis, dan pasang sebagai order bila sekuritas Anda menyediakannya. Cara menghindari godaan menggeser batas: tulis alasan masuk dan kondisi yang membatalkannya sebelum order dikirim.

Dua kondisi di mana batas rugi tidak menyelamatkan Anda

Gap. Berita buruk setelah penutupan bisa membuat harga dibuka jauh di bawah batas Anda. Anda keluar di harga pembukaan, bukan di batas. Karena itu risiko "1%" sebenarnya adalah risiko dalam kondisi normal.

Auto rejection bawah (ARB) atau suspensi. Bila harga langsung turun ke batas bawah harian dan antrean jual menumpuk, order Anda tidak tereksekusi. Ketentuan batas ARB diatur bursa dan pernah berubah; cek aturan terkini. Dalam kondisi begitu Anda terjebak sampai ada pembeli. Pengurang risikonya hanya satu: ukuran posisi lebih kecil dan hindari saham yang gampang mentok, seperti dibahas di artikel saham gocap.

Hitungan yang membuat orang berhenti menambah posisi saat rugi

Rugi 10% butuh untung 11,1% untuk balik modal. Rugi 25% butuh 33%. Rugi 50% butuh 100%. Hitungannya: modal 100 turun 50 jadi 50; untuk kembali ke 100 harus naik 50/50 = 100%. Karena kurva ini miring, menahan kerugian kecil jauh lebih murah daripada memperbaiki kerugian besar.

KerugianUntung yang dibutuhkan untuk impas
5%5,3%
10%11,1%
20%25%
30%42,9%
50%100%

Soal "average down": menambah posisi saat harga turun masuk akal bila tesis awal belum berubah dan ukuran total tetap sesuai batas risiko Anda. Itu jarang terjadi di praktik. Biasanya orang menambah karena tidak mau mengakui salah, dan risiko per transaksi diam-diam menjadi 3% atau 5%.

Berapa banyak posisi sekaligus

Dengan risiko 1% per transaksi, sepuluh posisi yang kalah bersamaan berarti 10% modal turun. Dan di pasar yang jatuh, posisi cenderung kalah bersamaan, karena sebagian besar saham bergerak searah. Korelasi inilah yang membuat "diversifikasi" ke sepuluh saham dari satu sektor tidak melindungi seperti yang dikira. Batasi total risiko yang terbuka, misalnya 5% modal, bukan hanya risiko per saham.

Kapan aturan sederhana ini gagal

  • Modal kecil. Dengan Rp5 juta dan risiko 1% (Rp50 ribu), biaya transaksi dan pembulatan lot sudah menggerus sebagian besar. Mungkin tidak ada posisi yang cocok, dan itu informasi tersendiri.
  • Strategi jangka panjang berbasis fundamental. Batas rugi harga ketat bisa mengeluarkan Anda dari saham bagus karena koreksi pasar biasa; ukuran posisi di sini lebih penting daripada batas harga.
  • Saham tidak likuid: batas rugi tidak bisa dieksekusi, jadi tidak ada ukuran "aman".

Skor MESSE membantu memilih apa yang dipantau, bukan seberapa besar posisinya. Itu keputusan Anda, sesuai profil risiko Anda. Lihat cara membaca Final Score dan metodologi, dan daftar akun gratis bila ingin menjelajahi datanya. Seluruh angka di atas hipotetis; tulisan ini edukasi umum dan bukan nasihat keuangan pribadi.

Disclaimer: MESSE adalah alat analisis data dan edukasi, bukan Penasihat Investasi berizin OJK, dan tidak memberikan rekomendasi untuk membeli, menjual, atau menahan efek tertentu. Skor dan level dihasilkan otomatis dari data historis yang dapat tertunda atau tidak akurat. Investasi saham berisiko tinggi, termasuk kehilangan seluruh modal. Kinerja masa lalu dan hasil backtest tidak menjamin hasil di masa depan. Keputusan investasi sepenuhnya tanggung jawab pengguna.

Analisis Saham IDX Lebih Mendalam dengan MESSE

Skor Kondisi 17 Komponen · Unusual Volume Detector · Audit Portofolio · Update Harian

Mulai Gratis — Tanpa Kartu Kredit