RSI di bawah 30 itu bukan tanda "sudah murah". Itu cuma tanda bahwa dalam 14 hari terakhir, hari turun lebih besar dan lebih sering daripada hari naik. Titik. Kalau saham tersebut sedang dilepas besar-besaran, RSI bisa menempel di bawah 30 selama berminggu-minggu sementara harganya terus turun. Orang yang membeli "karena oversold" lalu menyebutnya falling knife: pisau jatuh yang ditangkap dari mata pisaunya.
Apa yang sebenarnya dihitung RSI
Rumus dasarnya pendek. Ambil rata-rata kenaikan harian dan rata-rata penurunan harian selama 14 hari, bagi keduanya, lalu ubah ke skala 0 sampai 100:
RSI = 100 - 100 / (1 + RS), dengan RS = rata-rata naik / rata-rata turun.
Contoh hipotetis. Saham ABCD punya rata-rata kenaikan harian 0,3% dan rata-rata penurunan harian 0,9%. RS = 0,3 / 0,9 = 0,33. RSI = 100 - 100 / 1,33 = 25. Angka 25 muncul murni dari perbandingan itu. Tidak ada informasi soal valuasi, laba, atau apakah penjual sudah habis.
Kebalikannya juga berlaku. Rata-rata naik 1,2% dan turun 0,4% memberi RS = 3, RSI = 75. Pasar dengan tren naik kuat bisa punya RSI di atas 70 berbulan-bulan. Karena itu "overbought" sama menyesatkannya dengan "oversold".
Kenapa RSI bisa tetap rendah sambil harga terus jatuh
Bayangkan harga Rp1.000 yang turun 3% setiap hari (angka rekaan untuk hitungan). Setelah 10 hari: 1.000 x 0,97 pangkat 10 = sekitar Rp737. RSI-nya sudah mendekati nol. Kalau tekanan jual berlanjut sepuluh hari lagi, harga jadi sekitar Rp544. Selama itu RSI tidak pernah naik ke atas 30. Sinyal "oversold" menyala di Rp737, Rp650, Rp590. Pembeli pertama sudah rugi 26% sebelum harga mencapai Rp544.
Ini bukan kasus ekstrem. Saham yang kena berita buruk, rights issue dengan diskon besar, atau tekanan jual institusi bisa begitu. RSI hanya mencatat akibatnya.
Hitungan yang jarang ditunjukkan: win rate tinggi, hasil tetap minus
Banyak orang membela strategi beli-saat-oversold dengan "toh sering naik lagi". Mungkin benar. Tapi lihat hitungannya, dengan angka hipotetis:
| Komponen | Nilai |
|---|---|
| Frekuensi rebound yang menang | 55% |
| Rata-rata untung saat menang | +4% |
| Frekuensi lanjut turun | 45% |
| Rata-rata rugi saat kalah | -9% |
| Ekspektasi per transaksi | 0,55 x 4 - 0,45 x 9 = -1,85% |
| Setelah biaya (sekitar 0,4% bolak-balik) | sekitar -2,25% |
Menang 55% dari waktu, tapi minus. Rebound dari oversold biasanya kecil dan cepat, sedangkan lanjutan jatuhnya panjang. Pola "untung kecil, rugi besar" ini yang membunuh rekening, dan ia tidak kelihatan kalau kita hanya menghitung berapa kali sinyal berhasil. Soal biaya, rincian fee IDX dibahas di artikel backtest.
Cara memakai RSI yang lebih jujur
Saya memakainya sebagai pertanyaan, bukan jawaban. Beberapa pertanyaan yang saya ajukan sebelum menganggap RSI rendah berarti sesuatu:
- Harga masih di atas MA200 atau tidak? Di tren naik, RSI turun ke 35-40 sudah sering menjadi titik pantul. Di tren turun, 30 pun sering tembus. Lihat pembahasan moving average.
- Apakah ada lonjakan volume di hari turun terakhir? Volume besar di hari merah yang diikuti penutupan jauh dari titik terendah kadang menandai penjual kehabisan tenaga. Tanpa itu, penurunan RSI cuma penurunan.
- Apakah RSI sudah naik kembali melewati 30? Menunggu RSI keluar dari zona rendah mengorbankan beberapa persen harga pertama, tapi menyaring banyak pisau jatuh. Harga mahal, informasi lebih bagus.
- Ada berita yang mengubah cerita perusahaan? Gagal bayar, suspensi, atau laporan keuangan buruk tidak terlihat di RSI sama sekali.
Divergensi: berguna, tapi sering dipaksakan
Divergensi bullish terjadi saat harga membuat dasar baru yang lebih rendah, sementara RSI membuat dasar yang lebih tinggi. Artinya tekanan jual per-hari mulai mengecil walau harga masih turun. Ia memang lebih informatif daripada angka 30 yang berdiri sendiri.
Masalahnya, mata manusia pandai menemukan divergensi pada grafik mana pun kalau dicari. Aturan sederhana yang saya pegang: dua dasar harus jelas, jaraknya cukup lebar (bukan dua lembah dalam seminggu), dan tetap perlu konfirmasi harga, misalnya penutupan di atas puncak kecil terakhir. Tanpa konfirmasi, divergensi bisa bertahan dan bertahan sampai harga habis.
Kapan RSI paling sering gagal di IDX
- Saham tipis. Satu transaksi besar menggeser harga beberapa tick dan memutar RSI. Kalau hanya diperdagangkan ratusan lot sehari, RSI mengukur kebisingan. Lihat juga soal saham gocap.
- Setelah aksi korporasi. Ex-date dividen besar, stock split, atau rights issue menggeser harga tanpa ada tekanan jual yang sesungguhnya, kecuali data harga belum disesuaikan.
- Kondisi pasar yang memang jatuh. Saat IHSG turun beberapa hari beruntun, hampir semua saham oversold bersamaan. Itu sinyal tentang pasar, bukan tentang satu saham.
Dua pembacaan RSI 28 yang berlawanan
Dua saham hipotetis, sama-sama RSI 28 hari ini. Saham pertama berada di atas MA200 yang masih naik, turun enam hari berturut-turut sekitar 8% total, dengan volume hari terakhir tiga kali rata-rata dan penutupan di tengah rentang hari. Itu koreksi dalam tren naik yang mungkin sedang kehabisan penjual. Saham kedua sudah 30% di bawah MA200, MA200-nya menurun, RSI sudah di bawah 35 selama tiga minggu, dan volumenya mengecil setiap hari. Itu saham yang tidak ada yang mau beli.
Angka RSI-nya identik, ceritanya berlawanan. Satu-satunya cara membedakan keduanya adalah melihat hal lain di luar RSI. Kalau Anda hanya punya satu indikator di layar, Anda tidak sedang menganalisis, Anda sedang menebak dengan penampilan teknis.
Satu kebiasaan kecil membantu: catat RSI dan alasan Anda mengabaikan atau mengambil sinyalnya sebelum melihat hasilnya. Setelah dua puluh catatan, pola kesalahan biasanya sudah terlihat. Sebagian besar kesalahan itu bukan soal angka RSI, tetapi soal terlalu cepat bertindak.
Di mana saya meletakkannya di MESSE
RSI hanya satu masukan dari puluhan indikator di balik Final Score. Di daftar saham oversold harian saya sengaja memasangkannya dengan skor gabungan dan pola volume, justru karena RSI sendirian tidak membedakan koreksi sehat dari kejatuhan. Penjelasan cara skor disusun ada di halaman metodologi, dan Anda bisa mencoba melihat datanya langsung lewat akun gratis.
Bahan edukasi, bukan rekomendasi. Semua angka di atas hipotetis untuk menjelaskan cara menghitung.
Disclaimer: MESSE adalah alat analisis data dan edukasi, bukan Penasihat Investasi berizin OJK, dan tidak memberikan rekomendasi untuk membeli, menjual, atau menahan efek tertentu. Skor dan level dihasilkan otomatis dari data historis yang dapat tertunda atau tidak akurat. Investasi saham berisiko tinggi, termasuk kehilangan seluruh modal. Kinerja masa lalu dan hasil backtest tidak menjamin hasil di masa depan. Keputusan investasi sepenuhnya tanggung jawab pengguna.
Analisis Saham IDX Lebih Mendalam dengan MESSE
Skor Kondisi 17 Komponen · Unusual Volume Detector · Audit Portofolio · Update Harian
Mulai Gratis — Tanpa Kartu Kredit